Forming: Becoming a Group
A. The Psychodynamic Perspective
Perspektif
psikodinamik menjadi pangkal dari tingkah laku sosial yang dinamis dan saling
mempengaruhi antara kebutuhan dasar psikologis dan keinginan. Pendekatan ini
pertama kali dikemukakan oleh Sigmund Freud (1922), teori psikodinamik Freud
mengemukakan bahwa individu berkelompok untuk pemuasan dasar biologis dan
kebutuhan psikologis yang akan menimbulkan ketidakbahagiaan apabila tidak
dipenuhi. Freud Replacement Theory
Dalam buku Group Psychology and the Analysis of the Ego,
Freud (1922), menjelaskan formasi kelompok dalam lingkup dua proses yang saling
berkaitan: identifikasi dan transferensi. Fokus pertama pada
identifikasi, Freud mengemukakan bahwa bahwa energi emosional individual
(libido) dapat diarahkan pada dirinya sendiri atau orang lain. Konsep lainnya
adalah transferensi, Freud menjelaskan
bagaimana formasi kelompok pertama anak mempengeruhi perilaku
kelompoknya dikemudian hari. Transferensi ini dapat membawa pada identifikasi
terhadap kelompok yang menjadi ego ideal bagi seluruh anggota kelompok.
B. FIRO
FIRO (Fundamental Interpersonal Relation
Orientation) dikemukakan oleh William Schutz, tingkah laku orang dewasa
kembali pada pengalaman pertama saat kanak-kanak dalam keluarga. Hipotesis Schutz
bahwa tingkah laku orang dewasa sering 1)Paralel, atau sejajar dengan tingkah
laku masa kecil dalam keluarga, dan 2) imitasi,
atau sejajar dengan tingkah laku orang tua dalam keluarga.
Ø Tiga dimensi kebutuhan interpersonal
1.
Need for inclusion, merupakan keinginan untuk
menemukan rasa memiliki dan kebersamaan melalui interaksi.
2. Need for Control, merujuk pada rasa kepemimpinan dalam kelompok,
individu yang tinggi dalam need for
control berharap untuk menguasai orang lain, namun orang lain yang ingin
dikuasai atau dikendalikan sangat senang untuk mematuhi perintah orang lain.
3. Need for Affection, keinginan untuk membangun dan memelihara hubungan
emosional dengan orang lain.
Ø Tipe kompatibilitas
1.
Originator Compatibility. Orang dalam sebuah kelompok
yang ingin memulai inklusi, kontrol, dan afeksi diimbangi oleh orang lain yang
ingin menerima inklusi, kontrol dan
afeksi dari orang lain.
2.
Interchange Compatibility yang mana individu dalam sebuah kelompok
setuju mengenai berapa banyak inklusi, kontrol, dan afeksi harus ada dalam kelompok.
Ø Pengukuran FIRO
Schutz
mengembangkan sekala pengukuran tiga kebutuhan interpersonal dan disebut
personality index the FIRO-B Dengan menggunakan FIRO-B ini Schutz mampu
mempelajari prediksinya mengenai hubungan antara kompatibilitas dan formasi kelompok.
Kesimpulannya, teori FIRO merupakan pendekatan
psikodinamik, menjelaskan
kebutuhan kelompok berdasarkan kebutuhan psikologis. FIRO secara jelas
menetapkan dimana individu harus menyesuaikan dengan orang lain, berdasarkan
tiga dimensi dasar yang ditetapkan Schutz dan juga level dari kebutuhan originator compatibility.
C. The Sociobiological Perspective
Ø Surviving in group
Sosiobiologi
didasarkan atas teori evolusi Charles Darwin. Meski Darwin banyak membahas
mengenai biologikal dan anatomical fitness, Sosiobiologi menggunakan konsep yang menjelaskan tingkah laku binatang
dalam situasi sosial. Sosiobiologi berpendapat bahwa bergabung dengan anggota
lain dalam satu spesies merupakan “expression
of the evolutionarily or curtrally stabilized strategies of individual animal that
on averege enhance their reproductive success” (Crook, 1981, p. 88).
Ø The “Herd” Instinct
Kebutuhan untuk
afiliasi bukan dipelajari melalui pengalaman, namun merupakan manifestasi dari
instinctive yang terdapat pada kebanyakan spesies. Formasi kelompok memberikan
perlindungan dari pemburuan, dan kelompok pemburu hanya pembawa mangsa.
Schachter (1959) berpendapat bahwa
kebutuhan untuk meraih kejelasan kognitif yang telah Festinger Kemukakan adalah
akibat langsung dari informasi kelompok. Schachter memperkirakan:
(1) Seseorang akan menggabungkan
diri ketika opini, sikap, kepercayaan mereka diserang.
(2)
Kegiatan-kegiatan yang tidak direncanakan akan menuju
sebuah “pencarian untuk infomasi kenyataan sosial”, dan bahwa
(3)
Keanggotaan kelompok akan memuaskan kebutuhan akan informas.
D. Perubahan Jati diri
Keseluruhan,
individu lebih suka untuk berinteraksi yang akan menyesuaikan diri untuk sebuah
prinsip yang minimax: orang akan bergabung dalam kelompok yang melengkapi
mereka dengan nilai penghargaan yang tinggi sampai nilai dari kerugian menurun.
Karena kritikan
sangat penting dalam penghargaan untuk mnyeimbangkan kerugian, Kelley dan
Thibaut memperkenalkan dua konsep: perbandingan tingkat dan alternatif
perbandingan tingkat. Untuk menggambarkan bagaimana menyeimbangkan formasi
kelompok.
E.
Penghargaan dari Kelompok
Gewirtz
menyatakan bahwa manusia memerlukan kebutuhan untuk berkelompok dengan yang
lain adalah memihak dengan hubungan yang memuaskan. Seperti halnya dasar dari
bilogis, seperti dahaga dan rasa lapar, menjadi kuat mereka merasa tidak puas,
kebutuhan untuk berkelompok dengan orang lain menjadi kuat dan panjang
seseorang telah dirampas dari kontak sosial.
F.
Karakteristik Anggota Kelompok
Studi kasus
tetang dinamika kelompok mengindikasikan dari hasil laporan, bahwa individu
lebih menyukai berinteraksi engan individu yang lain, yang memiliki fisik yang
sehat, rajin, dan sebagai sumber pengalaman baru (Bonny, 1947); dermawan,
antusias, dapat bersosialisasi, tepat waktu, adil dan dapat diandalkann(Thibaut
& Kelle, 1959); autentik, mudah menerima, penolong dan memiliki kekuatan
karakter (La Gaipa, 1977); baik budi, periang, dapat dipercaya, dan pandai
(Lott, Reed & Crow, 1970).
Setiap individu
tetap eksis dalam kelompoknya jika dalam kelompok tesebut terdapat suatu aktivitas yang disenangi anggotanya.
Kelompok-kelompok tersebut menarik
dimata anggotanya karena ada penghargaan yang alami pada aktivitaskelompok tersebut.
G.
Tujuan
Penghargaan akhir
yang utama adalah menjadikan sesuatu melalui keberadaan dinamika kelompok untuk
memudahkan pencapaian tujuan. Pengalaman sehari-hari diyakini, bahwa seseorang
tidak dapat meraih tujuannya sendiri, melainan pencapaian dapat dilakukan
dengan berkelompok.
H.
Harga Interaksi Kelompok
Mengacu pada teori perubahan sosial,
keadaan ambivalens meliputi kata awal dinamika sebuah kelompok. Harga tersebut
dapat 5 berbentuk dasar ketegangan, investasi diri, penolakan sosial, pengaruh
dan reaksi.
I.
Dasar Ketegangan
Ketika kelompok
berbentuk untuk pertamakalinya, unsur ketegangan muncul dalam berbagai
interaksi kelompok (Bormann, 1975: Thibaut & Kelley, 1959). Anggota
kelompokharus bernegoisasi dengan anggota lain yang sulit mereka terkenal, dan
hal ini menyebabkan perasaan tidak nyaman da keterpaksaan.
J.
Penolakan Sosial
Penerimaan satu
sama lain ditemukan sebagai hal yang sangat penting dalam menguatkan kelompok,
penolakan satu sama lain terlihat sebagai potensi punishment.
K. Pengaruh
Thibaut &
Kelley meyakini adanya konflik antara pengaruh
anggota, seringkali pengalaman dianggap sebagai harga dalam kelompok
kehidupan karena terdapat banyak sekali kejadian dimana kita mengurangi atau
menaikkan harga dan penghargaan kita kepada kawan satu kelompok.
L.
Reaksi
Thibaut dan Kelley mencatat, untuk
mengetasi masalah pengaruh, individu dalam kelompok harus mempengaruhi tingkah
laku mereka yang sekiranya menyebabkan timbulnya konflik dan menampilkan hanya
tingkah laku yang sekiranya cocok dengan individu lain
Seseorang harus membetasi
tingkahlakunya tidak hanya untuk
menhghindari pengaruhnya pada
anggota lain dan memelihara kecocokan dengan aturan, tapi juga disebsbkan
mereka harus mengetahui perintah orang yang lebih tinggi statusnya.
E. Daftar Pustaka
Forsyth, R. Donelson. (1983). An Introduction to Group Dynamics.
Brooks/Cole Publishing Company : Monterey, California.